Rabu, 07 Juni 2017

Terlalu Serius?

Apakah kamu bisa memilih seperti apa wujudmu saat kau akan dilahirkan? 


Apakah kamu pernah merasa bahwa kamu sesungguhnya kekurangan fisikmu telah Tuhan tutupi dengan kelebihan lain?


Apakah salah jika seseorang menyinggung fisikmu? 


Salahkan saya jika sudah berusaha berubah tapi memang kalah dengan yang sudah menang?


Akhir-akhir ini saya merasa dunia semakin keras. Akhir-akhir ini saya sering sekali melamun. Tidak fokus bahkan sempat seperti berada di tempat lain walau raga saya berada di tempat ini. Entah saya kenapa. Atau saya memang suka menghayal sehingga saya tidak bisa membuat 1 hal pun menjadi nyata? Entahlah. Saya juga bingung. Saya rasa, saya butuh motivasi lagi agar dapat kembali bersemangat menjalani hidup dengan segala kegiatan yang 'seabrek'. Saya rindu saya yang lama di mana saya kuat fisik dan mental. Saya tidak peduli dengan apa kata orang tentang penampilan saya yang 'pas-pasan' atau bahkan terkesan tidak peduli dengan diri sendiri. Saya menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah titipan sementara. Bukan saya atau kamu yang membuat sehingga saya pun tak bisa memilih mau seperti apa. Saya tau saya memang tak berparas jelita. Bahkan jauh dari kata itu. Tapi saya mencoba tutupi itu dengan kelebihan2 yang telah Tuhan beri kepada saya yang bahkan orang sejelita se-seantro dunia tidak punyai. Tapi saya miris rasanya ketika perkenalan dan pertemanan hanya menilai dari segi penampilan dan bukan isi dari diri seseorang. Tetapi apakah itu adil? Ketika hal itu adalah pemberian dan yang diberi hadiah menyinggung pemberian Tuhan yang lain karena dirasa 'cacat' ?



Apakah saya terlalu serius atau memang perkataan itu terlalu menusuk? 


Apakah saya memang seburuk yang kau katakan?


Apakah memang saya tidak akan pernah dihargai walau telah berusaha memperbaiki diri?


Kadang saya merasa saya yang terlalu serius menghadapi semua. Saya ambil semua , masukan dalam hati, diam, hingga sesak rasanya dada dan diam. Akibatnya saya pun lelah. Dan takbisa mengambil hal positif. Atau memang terlalu banyak negatifnya? Saya pun ragu mengatakannya. 


Saya ragu untuk memulai berbicara karena takut respon yang makin menyayat hati. Saya takut memulai jika hanya akan mengakhiri pada saat yang bersamaan. Saya takut terlalu percaya pada diri saya jika pada akhirnya telah patah terlebih dahulu rasa itu sebelum saya sempat mengukuhkanya. Entahlah saya bingung. Selama ini berarti ssya pandai berkamuflase. Tertawa dan tertawa dengan sangat mudah. Namun sesak di dalam dada. Entah saya lagi-lagi terlalu serius atau memang harus sudah begini adanya? Saya pun tak tau :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar